Cinta Yang Menyehatkan

Kita semua tahu bahwa cinta, sangat banyak wujudnya. Cinta antara orang tua dan anak, antara teman dan rekan, antara laki-laki dan perempuan, antara kita dan orang-orang yang membutuhkan. Apapun bentuknya, mari kita percayai bahwa motivasi, kesehatan, dan kebahagiaan, semua terlahir dari cinta. Agar menjadi sehat, penting bagi kita untuk merasakan cinta terhadap seseorang. Tidak ada orang yang bisa bahagia sendirian. Kehidupan yang bahagia diawali dengan membangun cinta dengan orang lain, memberi, dan menerima cinta.

Pada saat seseorang merasa benar-benar bahagia, tes darah akan menunjukkan sistem kekebalan yang sangat aktif. Selain itu, saat merasa bahagia, saraf-saraf parasimpatis akan terstimulasi dan mendominasi sehingga mengurangi tingkat stres. Saat tingkat stres menurun, efeknya adalah membaiknya sistem di seluruh tubuh –baik sistem kekebalan tubuh, sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, maupun sistem saraf. Sistem di seluruh tubuh tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka semua saling mempengaruhi. Perbaikan di satu sistem akan mempengaruhi seluruh tubuh untuk bergeser ke arah yang positif.

Saya mungkin harus bertele-tele dulu untuk sampai pada apa yang ingin saya ungkapkan. Saya tidak sedang membicarakan satu bentuk cinta yang natural, mudah dipahami, hadir setiap hari, selalu di hati, meski susah terdefinisi (terima kasih Ayah, Ibu, yang tanpa lelah memberikan cinta seperti ini).

Saya sedang membicarakan bentuk cinta yang lain, dan semoga kamu sadar saya sedang membicarakan bentuk cinta kita.

Apakah bisa menyehatkan mencintai dengan cara seperti ini? Entahlah, saya tidak terlalu berpengalaman untuk bisa peduli. Namun jelas, cinta inilah yang bisa membuat saya utuh sekaligus rapuh. Cinta inilah yang bisa membuat saya berpikiran konyol sekaligus logis. Cinta inilah yang bisa membuat saya merasakan bahagia maupun giris. Cinta inilah yang bisa memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang pintar dan bermanfaat, sekaligus menjerumuskan saya untuk jadi makin bodoh dari hari ke hari…

Sekali lagi, saya harus memilih untuk mencintai dengan cara yang paling sunyi. Saya BUKAN memilih cinta saya padamu untuk saya hidupi. Tapi kesunyian ini adalah semata bersimpuh di hadapan-Nya, dengan penuh kerendahan hati saya meminta, tidak usah agar Ia memelihara cinta kita ini, tapi agar Ia menumbuhkan cinta kepada siapa pasangan jiwa kita nanti…

Berbahagialah. Sendirian atau denganku. Sendirian atau dengan siapa kamu berada malam ini…

0 comments:

Post a Comment